Monday, December 20, 2010

Jantung Jiwa di Pusat Kota

Masih terbayang dan terkesan… di tengah arus kritik tajam dan menyakitkan, ditengah bara api yg sangat panas… di tengah cerca dan makian, bahkan sabotase dari kalangan bawah tidak berpendidikan yang cenderung mudah terprofokatif, atau bahkan masyarakat terpelajar yang sering memprofakatif.

Makin di perparah dengan tulisan-tulisan dan tayangan media yang lebih senang menjual sensasi kemiringan dari pada mengangkat sisi positif dan kebaikan. Sehingga dunia sekitar kita dipenuhi oleh pikiran-pikiran negatif yang akhirnya mempengaruhi jiwa dan hati kita.

Hmmm… sampai berapa lama keadaan seperti itu menyelimuti bangsa dan negara kita…

Ya! Saya melihat sisi lain yg bertolak belakang, sungguh bersahaja dan patriotik. Saya melihat nuansa yang sangat berbeda diantara bangunan mewah dan tinggi menjulang mungkin lebih 30 lantai… ditengahnya berdiri indah sebuah Masjid bernama Salahuddin. Ketika adzan Dzuhur berkumandang, saya menyaksikan orang-orang berbondong-bondong menuju Masjid. Sempat berdiri terpaku serasa tidak percaya, ada pesantren di tengah hiruk pikuk kantor… Masjid indah dan besar itu pun penuh oleh jama’ah yang melaksanakan sholat dzuhur, belum lagi setelah sholat sebagian membaca Al Qur’an kecil yang mereka bawa… Subhanallah…

Wajah-wajah mereka terlihat bersih berseri… sungguh terlihat jauh dari wajah “korupsi”…

Namun sungguh sangat menyakitkan, label “korupsi” itu begitu melekat di tubuh instansi dimana saat ini mereka berada… apakah bukan “fitnah” bila generalisasi keadaan dilakukan pada semua orang, sedangkan fitnah sudah jelas-jelas dikatakan dalam firman Tuhan lebih kejam dari pembunuhan. Hmmm… sungguh keadaan yang mengerikan… dan kita termasuk didalamnya yang menyebarkan fitnah…

Selain itu banyaknya jama’ah yang sholat itu merupakan orang-orang yang bekerja membantu negara memberi pemasukkan… merekalah yang bekerja memungut pajak demi pembangaunan bangsa dan negara Indonesia. Mereka adalah satria-satria pahlawan modern saat ini…

Bukan hanya umat Islam yang memiliki semangat berjuang di lembaga tersebut, namun umat yang lain pun memiliki semangat perjuangan yang sama melawan segala bentuk tindak korupsi, bahkan dalam sebuah kesempatan saya pernah mendengar salah seorang direkturnya yang beragama Nasrani, berbicara sungguh bersahaja…

Kebenaran dan kejujuran adalah universal, walau saya tidak katakan semua agama sama (dalam hal ini saya tidak membahas mengenai agama).

Bicara korupsi, bukan hanya di instansi itu saja, di tempat lain, di waktu yang lain, di individu yang lain, itu ada. Ya, bahkan bentuk korupsi yang lebih parah, namun tidak terlihat… Bahkan dijaman nabi pun itu sudah ada… sehingga ada ayat dalam Al Qur’an tidak boleh mengurangi timbangan (bentuk korupsi yang lain)…

Pengalaman yang sungguh mengesankan beberapa saat di kantor megah Direktorat Jenderal Pajak. Spanduk anti korupsi terpajang di sudut-sudut kantor. Kasus Gayus bukanlah dia berdiri sendiri… masih banyak orang-orang dibalik kasus tersebut yang tentunya bukan hanya orang dari Pajak. Pasti ada client nya, pasti ada pemasoknya, pasti ada pengamanannya, pasti ada pelindungnya dari jerat hukum, pasti ada tukang sapu dan tukang bersih-bersihnya, pasti ada…. masih banyak lagi.

Mari kita belajar bijak dan dewasa dalam memandang dan melihat sesuatu lebih jernih lagi. Generalisasi bukan sebuah alternatif pemikiran… Jadi ingat sebuah kalimat yang pernah di ucapkan oleh seorang tokoh cendekia arif dan bijaksana, “Ketika terjadi sebuah perbaikan yang sangat luar biasa, biasanya akan terlihat berapa pun kesalahan kecil atau segelintir oknum,” itulah kurang lebih yang pernah disampaikan oleh sang penulis aktif Resonansi di Republika, DR. Zaim Uchrowi, Direktur Utama Balai Pustaka.

Masjid Salahuddin adalah Jantung Jiwa di Pusat Kota, yaitu di kantor Direktorat Jenderal Pajak di jalan Jenderal Gatot Subroto… Semoga seperti nama besar Tokoh Pahlawan Islam yang termashur… Salahuddin Al Ayubi…. Semoga…. Amin.

OPINI Munawar Aziz

http://edukasi.kompasiana.com/2010/12/16/jantung-jiwa-di-pusat-kota

Related Post:

0 komentar: